Alat dan template

Kalkulator dana darurat: hitung targetmu dalam rupiah

Dana darurat adalah uang yang disiapkan untuk kejadian yang tidak direncanakan: kehilangan pekerjaan, sakit, kendaraan rusak, atau rumah yang perlu diperbaiki. Kalkulator ini menghitung targetnya dari pengeluaran wajib per bulan, sesuai keadaanmu.

Yang tetap harus dibayar walau penghasilan berhenti: tempat tinggal, makan, listrik, transport, cicilan, iuran.

Keadaanmu
Target minimum (6× pengeluaran)
Rp24.000.000
Target lebih aman (9× pengeluaran)
Rp36.000.000
Masih kurang untuk target minimum
Rp24.000.000

Dengan menyisihkan Rp1.000.000 per bulan, target minimum tercapai dalam sekitar 24 bulan.

Buat kantong dana darurat di Mony — coba 14 hari

Cara memakai kalkulator ini

  1. Isi pengeluaran wajib per bulan. Ini bukan seluruh pengeluaranmu, melainkan yang tetap harus dibayar seandainya penghasilan berhenti: tempat tinggal, makan, listrik dan air, transport, cicilan, iuran kesehatan, dan biaya sekolah. Makan di luar, liburan, dan langganan hiburan bisa dihentikan saat darurat, jadi tidak perlu ikut.
  2. Pilih keadaanmu. Semakin banyak orang yang bergantung pada penghasilanmu, semakin panjang masa yang perlu ditutup.
  3. Centang kalau penghasilanmu tidak tetap. Pekerja lepas, pemilik usaha, atau pekerja dengan komisi biasanya butuh cadangan lebih besar.
  4. Isi yang sudah ada dan yang bisa disisihkan. Kalkulator menunjukkan kekurangannya dan perkiraan berapa bulan sampai target minimum tercapai.

Hitungannya terjadi di perambanmu sendiri. Angka yang kamu ketik tidak dikirim ke mana pun dan tidak disimpan.

Dari mana angka 3, 6, 9, dan 12 bulan

Tidak ada satu rumus resmi yang berlaku untuk semua orang, dan sumber yang berbeda memakai angka yang sedikit berbeda. Kalkulator ini memakai rentang yang paling sering ditemui di bahan edukasi keuangan berbahasa Indonesia:

Patokan dana darurat yang dipakai kalkulator ini
KeadaanRentangUntuk pengeluaran wajib Rp4.000.000
Lajang, tanpa tanggungan3–6 bulanRp12.000.000 sampai Rp24.000.000
Menikah, belum ada anak6–9 bulanRp24.000.000 sampai Rp36.000.000
Punya anak atau tanggungan9–12 bulanRp36.000.000 sampai Rp48.000.000
Penghasilan tidak tetap9–12 bulanRp36.000.000 sampai Rp48.000.000
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lewat situs edukasi Sikapi Uangmu, menyebut dana darurat 3–6 kali gaji untuk yang masih lajang atau tanpa tanggungan, dan 6–12 kali gaji untuk yang sudah berkeluarga (artikel “Dana Darurat? Wajib Tahu dan Wajib Punya!”).
  • Bank Sinarmas (artikel “Berapa Idealnya Dana Darurat? Yuk, Hitung Bareng!”) dan Allianz Indonesia (artikel “Berapa Dana Darurat Ideal untuk Lajang dan Keluarga?”) memecah kelompok berkeluarga menjadi 6–9 kali pengeluaran bulanan untuk yang sudah menikah dan 9–12 kali untuk yang sudah punya anak. Allianz menyarankan target dinaikkan sampai 9–12 bulan bila sumber penghasilan tidak stabil.

Perhatikan satu perbedaan: OJK menghitung dari gaji, sementara dua sumber lainnya dari pengeluaran. Kalkulator ini memakai pengeluaran wajib, karena yang perlu ditutup saat darurat adalah biaya hidup, bukan gaji. Kalau pengeluaranmu hampir sama dengan gajimu, hasil keduanya tidak jauh berbeda.

Memilih angka di dalam rentang

Rentang memberi ruang untuk menyesuaikan. Pilih ujung yang lebih tinggi kalau:

  • kamu satu-satunya sumber penghasilan di rumah;
  • pekerjaanmu butuh waktu lama untuk diganti kalau hilang;
  • ada anggota keluarga dengan kebutuhan kesehatan rutin;
  • kamu belum punya perlindungan kesehatan yang memadai;
  • cicilanmu besar dan tidak bisa ditunda.

Ujung yang lebih rendah cukup masuk akal kalau ada dua penghasilan yang tidak bergantung pada tempat kerja yang sama, pengeluaran wajibmu kecil, atau kamu punya keluarga yang bisa membantu dalam keadaan mendesak. Kalau ragu, mulai dari target minimum dulu. Target yang tercapai lebih berguna daripada target ideal yang membuatmu berhenti di bulan kedua.

Kalau targetnya terasa terlalu besar

Melihat angka Rp24.000.000 atau Rp36.000.000 bisa membuat ciut. Pecah targetnya menjadi tahap yang lebih kecil:

  1. Tahap pertama: satu bulan pengeluaran wajib. Ini sudah cukup untuk kebanyakan kejadian kecil, seperti servis kendaraan atau biaya berobat.
  2. Tahap kedua: tiga bulan. Pada titik ini kamu punya waktu bernapas kalau penghasilan terhenti.
  3. Tahap ketiga: target minimum dari kalkulator.
  4. Tahap keempat, kalau perlu: target yang lebih aman.
Contoh tahapan untuk pengeluaran wajib Rp4.000.000 dengan menyisihkan Rp800.000 per bulan
TahapTargetPerkiraan waktu dari nol
Satu bulan pengeluaranRp4.000.0005 bulan
Tiga bulan pengeluaranRp12.000.00015 bulan
Enam bulan pengeluaranRp24.000.00030 bulan

Waktunya memang panjang. Karena itu, uang tak terduga seperti THR, bonus, atau hasil menjual barang yang tidak terpakai bisa dipakai untuk mempercepat, setidaknya sebagian.

Di mana menyimpannya

Dana darurat perlu dua sifat: mudah dicairkan saat dibutuhkan, dan nilainya tidak naik-turun tajam. Yang umum dipakai adalah rekening tabungan yang terpisah dari rekening harian, supaya tidak ikut terpakai. Tidak perlu semuanya di satu tempat; sebagian kecil di rekening yang bisa diambil kapan saja, sisanya di tempat yang sedikit lebih sulit dijangkau, sudah cukup.

Pembahasan lebih lengkap, termasuk kapan dana darurat boleh dipakai dan cara mengisinya kembali, ada di dana darurat berapa. Kalau kamu belum tahu berapa pengeluaran wajibmu sebulan, mulailah dari template budgeting bulanan atau cara mencatat pengeluaran harian. Di Mony by Candora, kamu bisa membuat kantong khusus dana darurat di dalam rekeningmu, supaya uangnya terlihat terpisah dari uang belanja.

Sumber

  • Otoritas Jasa Keuangan, Sikapi Uangmu: “Dana Darurat? Wajib Tahu dan Wajib Punya!” (sikapiuangmu.ojk.go.id), dibaca Oktober 2026.
  • Bank Sinarmas: “Berapa Idealnya Dana Darurat? Yuk, Hitung Bareng!” (banksinarmas.com), dibaca Oktober 2026.
  • Allianz Indonesia: “Berapa Dana Darurat Ideal untuk Lajang dan Keluarga?” (allianz.co.id), dibaca Oktober 2026.